← Kembali ke Katalog
Katalog/Anak & Remaja/PESTA HUTAN TANPA MAKANAN SISA: Larangan Sifat Mubazir

PESTA HUTAN TANPA MAKANAN SISA: Larangan Sifat Mubazir

Kategori: Anak & Remaja, Ceriita Dongeng Anak | Dilihat: 0 Kali

Harga Saat Ini

Rp 8.500 Rp 10.00015%

Preview Audio

Dengarkan cuplikan singkat sebelum membeli.

Preview utama

Detail Produk

Bahasa:Indonesia
Format:MP3
Penulis:Kak Nisa
Narator:Ayu
Durasi:31:47
Penerbit:Duta Ilmu Press
Peringkat:5.00

Share:

Deskripsi

Halo, Adik-adik yang manis, Ayah yang hebat, dan Bunda yang luar biasa! Apakah kalian sudah siap untuk bertualang ke sebuah tempat yang sangat ajaib? Tutup mata kalian sejenak, hirup napas dalam-dalam... Hahhh... Wanginya harum sekali, bukan? Seperti wangi kue stroberi yang baru matang! Selamat datang di Hutan Riang.

Pernahkah kalian membayangkan sebuah hutan yang warnanya tidak hanya hijau? Di sini, rahasia keajaiban ada di setiap sudutnya. Ada pohon-pohon besar yang daunnya berwarna merah muda lembut, persis seperti permen kapas yang biasa kalian beli di taman ria. Kalau kalian menyentuhnya, puk-puk, rasanya empuk sekali! Lalu, lihat ke sebelah sana! Ada deretan pohon kuning cerah yang berkilau seperti mentega di bawah sinar matahari. Syuuuu... syuuuu... Angin bertiup pelan, membelai telinga kita, membuat daun-daun itu menari-nari dan mengeluarkan suara gemericik yang merdu. Di hutan yang indah ini, semua hewan hidup dengan rukun. Dan hari ini adalah hari yang sangat istimewa. Mengapa? Karena hari ini adalah hari Pesta Akbar Hutan Riang! --- Kenalan dengan Kiki, Si Kelinci Bertelinga Panjang Di tengah keriuhan persiapan pesta, hiduplah seekor kelinci kecil yang sangat menggemaskan bernama Kiki. Kiki memiliki bulu putih seputih awan dan telinga yang sangat, sangat panjang. Tahukah kalian apa yang paling lucu dari Kiki? Itu adalah hidung merah mudanya yang kecil. Endus, endus, endus! Hidung itu tidak pernah berhenti bergerak. "Lompat ke kanan, hup! Lompat ke kiri, hup!" Kiki bernyanyi dengan riang. Ia memakai pita kecil di lehernya, siap untuk membantu teman-temannya. Kiki adalah kelinci yang baik hati, tapi ia punya satu kebiasaan kecil: Kiki sangat suka mengumpulkan makanan dalam jumlah yang banyaaaaak sekali! Pagi itu, Kiki membawa keranjang rotannya yang besar. Ia pergi ke kebun Wortel Pelangi. Wah, ada wortel warna ungu, jingga, dan biru! "Aku mau yang ini, yang itu juga, oh, yang di sana sepertinya enak!" kata Kiki penuh semangat. Kiki mengambil semua yang ia lihat. Ia berpikir, semakin banyak makanan di piringnya nanti, maka ia akan semakin bahagia. Namun, apakah benar begitu, Adik-adik?

Persiapan Pesta yang Heboh: Keajaiban dan Tumpukan Makanan Di sudut hutan yang lain, ada Gaby si Gajah Gemoy yang sedang meniup balon-balon air sabun yang tidak bisa pecah. Balon-balon itu terbang tinggi, memantulkan warna pelangi. Lalu ada Pipit si Burung Pipit yang sibuk menghias meja panjang dengan bunga-bunga yang bisa bernyanyi pelan. "Kiki, jangan ambil terlalu banyak, ya! Ingat, perut kita punya batasnya," tegur Gaby dengan suara berat namun lembut. Wuuut... Gaby menyemprotkan air segar ke arah kebun untuk membersihkan buah-buahan. Tapi Kiki hanya tertawa, "Hahaha! Tenang saja, Gaby! Aku kan lapar sekali. Aku ingin mencoba semuanya. Lihat, apel emas ini cantik sekali, aku harus ambil sepuluh! Oh, kacang polong ajaib ini juga, aku ambil dua genggam besar!" Keranjang Kiki kini sudah penuh sesak sampai ia sulit berjalan. Gubrak! Kiki hampir terjatuh karena bebannya terlalu berat. Namun, rasa semangatnya mengalahkan rasa lelahnya. Ia membayangkan meja pesta yang penuh sesak dengan makanan. Di pikirannya, pesta yang hebat adalah pesta di mana makanan bertumpuk setinggi gunung.

Konflik di Meja Pesta: Ketika Hutan Menjadi Sedih Saat matahari mulai turun dan langit berubah warna menjadi ungu keemasan, pesta pun dimulai. Musik mulai terdengar—*jreng, jreng, jreng!*—dimainkan oleh jangkrik-jangkrik berbakat. Semua hewan berkumpul. Meja panjang itu penuh dengan hidangan lezat. Kiki duduk di kursinya dengan bangga. Di depannya, ada piring yang sangat besar. Ia mengambil sepotong kue pohon, tiga buah wortel pelangi, segenggam beri madu, dan banyak lagi. Teman-temannya yang lain, seperti Tupi si Tupai, hanya mengambil satu kacang dan satu buah beri. "Ayo makan, teman-teman!" seru Kiki. Nyam, nyam, nyam... Suapan pertama terasa enak sekali. Suapan kedua juga lezat. Tapi saat suapan kelima... Ugh... Perut Kiki mulai terasa sangat kencang. "Aduh, aku sudah kenyang," bisik Kiki pelan. Padahal, di piringnya masih ada tumpukan makanan yang sangat banyak. Tiba-tiba, suasana hutan berubah. Daun permen kapas yang tadinya merah muda cerah, mulai sedikit meredup warnanya. Angin berhenti bertiup riang. Mengapa ya? Ternyata, Hutan Riang bisa merasakan kesedihan jika ada makanan yang terbuang sia-sia. Di sana, membuang makanan atau bersikap mubazir adalah hal yang membuat keajaiban hutan menghilang. Kiki melihat ke piringnya, lalu melihat ke teman-temannya. Ia merasa malu. Ia sudah mengambil terlalu banyak, sehingga teman lain mungkin tidak kebagian, dan sekarang makanan itu terancam dibuang. "Oh tidak, apa yang sudah aku lakukan?" tangis Kiki kecil. Hidung merah mudanya berhenti berkedut. Ia merasa sedih.

Pesan Bijak dari Kakek Burung Hantu Tiba-tiba, terdengar suara kepakan sayap yang tenang. *Wusss...* Kakek Owi, burung hantu yang sangat bijaksana, hinggap di dahan pohon tepat di atas meja pesta. Mata besarnya yang kuning bersinar lembut. "Kiki," panggil Kakek Owi. "Tahukah kau? Perut kita bukan gudang penyimpanan yang tanpa batas. Makanan adalah berkat dari hutan. Jika kita mengambil lebih dari yang kita butuhkan, itu artinya kita mengambil hak teman kita, atau membiarkan keajaiban terbuang menjadi sampah." Kakek Owi menjelaskan dengan suara yang sangat hangat, seperti pelukan di malam hari. Ia mengajarkan tentang sifat mubazir. Bahwa secukupnya itu adalah kunci kebahagiaan. "Makanan yang sisa tidak bisa tertawa, Kiki. Mereka akan layu dan menangis. Tapi makanan yang dimakan dengan cukup, akan berubah menjadi energi untuk melompat dan bermain." Kiki menunduk, butiran air mata kecil jatuh di pipinya yang berbulu. "Maafkan aku, Kakek Owi. Maafkan aku, Hutan Riang. Aku berjanji tidak akan mubazir lagi."

Mari Bergabung dalam Pesta Tanpa Sisa! Nah, Adik-adik manis, apakah Kiki bisa memperbaiki kesalahannya? Bagaimana cara Kiki dan teman-temannya menyelamatkan makanan sisa itu agar keajaiban Hutan Riang kembali bersinar? Dan apakah kalian mau belajar cara mengambil makanan yang "pas" di piring kalian sendiri seperti Kiki yang baru? Ayo, kita ikuti kelanjutan kisah petualangan Kiki dalam dongeng "PESTA HUTAN TANPA MAKANAN SISA: Larangan Sifat Mubazir". Di dalam cerita ini, kalian akan belajar tentang: 1. Cara Mengenali Rasa Kenyang: Agar perut kita selalu merasa nyaman. 2. Berbagi Itu Indah: Mengapa mengambil secukupnya berarti memberikan kesempatan bagi orang lain. 3. Menghargai Makanan: Karena setiap butir nasi atau potongan buah punya cerita perjuangan untuk sampai ke piring kita. Cerita ini dikemas dengan gaya bahasa yang lembut, penuh bunyi-bunyian seru yang bisa kalian tirukan, dan gambar imajinatif yang akan membuat kalian merasa sedang berada di Hutan Riang. Siapkan pelukan hangat untuk Ayah dan Bunda, pasang telinga kalian baik-baik, dan mari kita mulai petualangan ajaib ini. Ingat ya pesan Kiki: "Makan secukupnya, habiskan tanpa sisa, agar hati selalu bahagia!" Sampai jumpa di Hutan Riang, Adik-adik! Hup, hup, mari melompat menuju kebaikan!

#DongengAnak #KarakterAnak #BelajarTidakMubazir #CeritaPAUD #HutanRiang