BATU MENANGIS ABADI Durhaka Berbuah Penyesalan
Kategori: Anak & Remaja, Ceriita Dongeng Anak | Dilihat: 0 Kali
Harga Saat Ini
Preview Audio
Dengarkan cuplikan singkat sebelum membeli.
Detail Produk
Deskripsi
Halo, Ayah, Bunda, dan Adik-adik petualang yang luar biasa! Apakah kalian siap untuk masuk ke dalam dunia yang penuh dengan warna, suara ajaib, dan rahasia gunung yang tersembunyi? Bersiaplah, pakai sepatu petualangmu, dan kencangkan sabuk pengaman imajinasimu, karena kita akan terbang menuju sebuah desa yang sangat indah di kaki Gunung Biru! Selamat Datang di Desa Pelangi! Wushhh! Angin sejuk bertiup dari puncak gunung, menggoyang-goyangkan daun pohon mangga emas yang buahnya berkilauan seperti permata. Di desa ini, bunganya bisa bernyanyi dan air sungainya sebening kristal. Di sinilah tinggal seorang gadis bernama Darmi. Cling! Cling! Cling! Dengar tidak suara itu? Itu adalah suara gelang perak Darmi yang beradu saat ia menari-nari.
Darmi adalah gadis yang sangat cantik, kecantikannya seperti bunga mawar yang baru mekar di pagi hari. Rambutnya hitam panjang mengkilap, dan matanya berbinar seperti bintang. Tapi, tahukah kalian? Darmi punya satu kebiasaan yang sangat unik. Ia sangat, sangat, sangat suka bercermin! "Wah! Lihatlah, aku cantik sekali hari ini!" seru Darmi sambil mengelus rambutnya yang halus. "Cermin air, lihatlah wajahku yang bersinar ini!" Darmi bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengagumi bayangannya di telaga yang jernih. Ia memakai baju merah muda yang sangat cantik, hasil jahitan ibunya yang penuh cinta.
Ibu Sang Pahlawan yang Tak Kenal Lelah Namun, di balik kecantikan Darmi, ada sosok pahlawan hebat di rumah mereka. Itulah Ibu Darmi. Berbeda dengan Darmi yang suka bersolek, Ibu adalah sosok yang sangat rajin. Srek... srek... srek... suara sapu lidi Ibu membersihkan halaman setiap subuh. Tak... tok... tak... tok... suara Ibu membelah kayu bakar untuk memasak nasi yang hangat dan lezat untuk Darmi. Ibu bekerja sangat keras di ladang setiap hari agar Darmi bisa memakai baju yang bagus. Kulit Ibu menjadi gelap karena sinar matahari, dan tangannya menjadi kasar karena bekerja keras. Tapi bagi Ibu, senyum Darmi adalah segalanya. Sayangnya, Darmi sering lupa mengucapkan "terima kasih" kepada Ibu. Darmi lebih suka bermain dengan cerminnya daripada membantu Ibu mengangkat keranjang sayur yang berat.
Petualangan Menuju Pasar yang Menegangkan! Suatu hari, ada sebuah misi penting! Ibu harus pergi ke pasar di balik bukit untuk menjual hasil ladang. "Darmi sayang, maukah kau menemani Ibu ke pasar? Ibu butuh bantuanmu membawa sedikit barang," pinta Ibu dengan lembut. Awalnya Darmi cemberut. "Ah, Ibu, nanti kulitku terkena debu!" Namun, karena ia ingin membeli pita rambut baru, akhirnya Darmi setuju. Tapi ada syaratnya! Darmi berjalan di depan dengan baju mewahnya yang berkilauan, sementara Ibu berjalan jauh di belakang, memikul keranjang yang sangat berat dan besar. Tap... tap... tap... Darmi melompat-lompat dengan lincah seperti kancil yang cerdik. Sementara Ibu, huff... huff..., berusaha mengejar sambil mengelap keringat. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan banyak orang desa. "Wah, Darmi! Kamu cantik sekali seperti putri raja!" seru orang-orang. Darmi tersenyum bangga. Tapi kemudian, mereka melihat Ibu yang berjalan di belakang dengan pakaian kumal. "Lalu, siapa wanita tua yang membawa keranjang di belakangmu itu? Apakah dia ibumu?" Apa yang terjadi selanjutnya benar-benar mengejutkan! Darmi merasa malu karena Ibunya terlihat sangat lelah dan kotor.
Dengan suara yang keras, Darmi menjawab, "Bukan! Dia bukan ibuku! Dia adalah pelayanku!" Deg! Hati Ibu terasa sangat sedih, seperti tertusuk duri bunga mawar yang tajam. Namun, Ibu tetap diam dan terus berjalan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali orang bertanya, dan Darmi tetap menjawab dengan sombong, "Dia hanya pelayanku!" Keajaiban yang Menggelegar di Langit! Tiba-tiba, langit yang tadinya biru cerah berubah menjadi gelap gulita! Brummm... Dar! Suara petir menggelegar di langit, seolah-olah gunung sedang marah. Angin bertiup sangat kencang hingga pohon-pohon besar menunduk. Ibu berhenti berjalan. Ia tidak bisa lagi menahan rasa sedihnya. Ibu jatuh berlutut dan berdoa kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Tiba-tiba, terjadi sesuatu yang sangat ajaib dan mendebarkan! "Ibu... ada apa dengan kakiku?" teriak Darmi ketakutan. Zinggg! Cahaya perak menyelimuti kaki Darmi. Perlahan-lahan, kakinya yang lentur berubah menjadi keras dan dingin. Dari kaki naik ke lutut, lalu ke pinggang. Darmi mulai membatu! "Ibu! Tolong aku! Aku minta maaf! Aku mengaku salah!" tangis Darmi pecah. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang cantik. Darmi menyesal karena telah sombong dan tidak menghargai Ibunya yang luar biasa. Ia terus menangis dan memohon, tapi terlambat... seluruh tubuhnya kini telah berubah menjadi batu yang tegak berdiri.
Rahasia Batu yang Terus Menangis Tahukah kalian? Meskipun Darmi sudah menjadi batu, keajaiban tetap terjadi. Dari mata batu itu, air terus mengalir seperti air mata yang tak pernah berhenti. Itulah sebabnya orang-orang menyebutnya "Batu Menangis". Batu itu seolah-olah berbisik kepada setiap anak yang lewat, "Sayangilah ibumu, karena ibu adalah harta yang paling berharga di dunia." Ayo, Temukan Keajaibannya! Adik-adik yang hebat, apakah kalian ingin tahu bagaimana kelanjutan ceritanya? Bagaimana perasaan Ibu melihat anaknya berubah menjadi batu? Dan pesan rahasia apa lagi yang disembunyikan oleh Gunung Biru? Dongeng "Batu Menangis Abadi: Durhaka Berbuah Penyesalan" bukan sekadar cerita biasa. Ini adalah petualangan emosi yang akan mengajak kalian tertawa, tegang, hingga merasa haru. Di dalam buku ini, kalian akan melihat gambar-gambar yang sangat berwarna-warni, seolah-olah kalian ikut berjalan bersama Darmi menuju pasar ajaib! Ayah dan Bunda, mari ajak buah hati kita belajar tentang kasih sayang dan rasa hormat melalui kisah yang penuh aksi dan imajinasi ini. Mari kita peluk Ibu dan Ayah hari ini, dan katakan, "Aku sayang Ibu!" sebelum kita mulai membaca halaman pertama dari kisah legendaris ini. Ayo, tunggu apa lagi? Segera buka bukunya, dengarkan suara angin wushhh, dan biarkan petualangan dimulai!
#BatuMenangis #DongengAnak #CeritaRakyat #PelajaranBudiPekerti #PetualanganAjaib




